Gagal
Kami berja
lan perlahan menembus dunia malam. Langkah langkah kecil kami menyusuri jalanan
batu yang tidak rata. Disusun secara sembarangan tanpa memperdulikan kerapian,
tapi memang seperti itulah seharusnya .
semerawut tapi pas.
Jalan setapak itu menghubungkan bagian
belakang villa dengan jalan raya. Malam itu adalah malam perpisahan kelas kami.
Akhirnya setelah tiga tahun belajar membanting tulang hanya
untuk sebuah status kelulusan yang belimk bisa di jadikan pegangan hidup .
Kami lulus
smu.tetapi tugas belajar kami belum berakhir ,kami masih bisa dan harus belajar
lagi .
Banyak
orang bijak dan sok bijak bilang bahwa hidup ini adalah pembelajaran ,selama
kita hidup kita selalu bisa belajar apa saja ,di mana saja dan dari mana saja
.that’s not the poin’t,yang aku maksud
adalah kami khususnya aku harus lanjut lagi ke bangku kuliah .tahu sendiri
kan,sekarang ini cari pekerjaan sulitnya minta ampun ,apa lagi hanya
mengandalkan ijazah smu ,belajar dari kehidupan tidak akan ber akhir dgn
beberapa huruf tambahan di belakang nama kita yang salah satu alasan mengapa
keadaan negara kita tercinta ini tetap terpuruk terbukti lebih di hargai dgn
kemampuan yang kita miliki.
Lagi pula
papaku pinginnya aku nerusin kuliah kedokteran apalagi berpropesi menjadi
dokter ,supaya bisa nolongin orang sakit .tentu saja di atas nilai di atas ada
tujuan lain yang lebih manusiawi ,uang status sosial.
Sebenarnya
aku gak ter tarik kuliah kedokteran apalagi ber profesi dokter.aku sama sekali
bukan orang yhang punya bakat menjadi seorang dokter rumah sakit adalah tempat
kedua di seluruh dunia yang aku takuti setelah kantor polisi.yang tidak ingin
aku datangi
Tidak ada komentar :
Posting Komentar